Industri Migas Indonesia Didorong Lompat ke Kekuatan Global Lewat Pipa Seamless

Misryoum melaporkan dorongan transformasi industri migas Indonesia, fokus pada penguatan manufaktur pipa seamless dan peningkatan daya saing berbasis TKDN.
Dorongan kuat agar industri migas Indonesia tidak berhenti di hilir kini mengemuka, dengan target menjadikan manufaktur pipa seamless sebagai pijakan naik kelas.
Misryoum menyebut, sejumlah tantangan masih membayangi penguatan sektor migas, mulai dari ketergantungan impor pipa dan peralatan strategis hingga keterbatasan teknologi serta lemahnya basis industri domestik.. Situasi itu dinilai membuat Indonesia kesulitan bergerak lebih jauh di rantai nilai global.
Dalam konteks tersebut, Misryoum mencatat penguatan manufaktur pipa menjadi perhatian serius. Salah satu yang disorot adalah pipa seamless produksi dalam negeri yang memiliki komitmen terhadap TKDN.
Factory visit dilakukan ke fasilitas produksi Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon. Kegiatan ini dihadiri Sekjen IAFMI Gede Pramona bersama jajaran pengurus lainnya, serta Chairman Komunitas Migas Indonesia (KMI) S Herry Putranto.
Dari diskusi terbatas yang digelar, urgensi transformasi disampaikan sebagai kunci keluar dari jebakan ekonomi berbasis komoditas. Fokusnya bukan sekadar mengambil sumber daya, melainkan membangun kemampuan industri agar bisa bersaing di pasar yang lebih luas.
Misryoum melihat langkah ini penting karena kemampuan produksi domestik akan menentukan posisi Indonesia ketika permintaan industri migas terus berkembang. Saat kapasitas industri penunjang menguat, ketergantungan pada barang impor bisa ditekan.
Pada kesempatan tersebut, Misryoum melaporkan CCO PT Artas Energi Petrogas Hendrik Kawilarang Luntungan menegaskan bahwa Indonesia tidak seharusnya terus menjadi pasar bagi produk industri global. Ia menekankan kebutuhan untuk menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok.
Kapabilitas yang telah ditunjukkan oleh IST turut menjadi bagian dari pembahasan. Misryoum mencatat perusahaan ini disebut sebagai produsen seamless tube di Indonesia, dengan kontribusi lewat substitusi impor dan ekspor ke pasar Asia hingga Timur Tengah.
Secara keseluruhan, Misryoum menangkap pesan yang sama: lompat ke kekuatan global perlu diwujudkan melalui penguasaan industri, bukan hanya mengandalkan perdagangan komoditas. Jika kemampuan manufaktur dalam negeri terus didorong, posisi tawar Indonesia di sektor migas akan lebih kuat.
Insight penutup: transformasi industri penunjang seperti pipa seamless bisa menjadi titik balik, karena berdampak langsung pada kualitas pasokan, efisiensi biaya, dan ketahanan rantai pasok jangka panjang.