Indonesia News

Viral Dua Rombongan Adu Jotos di Puncak Gunung Lawu Gegara Rebutan Spot Foto

Video 17 detik menunjukkan dua rombongan pendaki baku hantam di Puncak Gunung Lawu. Kejadian dipicu rebutan spot foto, kini ada permohonan maaf dari kedua pihak.

SURABAYA—Viral di media sosial, sebuah video memperlihatkan dua rombongan pendaki terlibat baku hantam di Puncak Gunung Lawu. Peristiwa yang terekam singkat itu disebut terjadi karena rebutan spot foto, Senin (27/4).

Peristiwa ini ramai diperbincangkan setelah beredar rekaman berdurasi sekitar 17 detik. Dalam video tersebut, terlihat dua kelompok pendaki saling berhadapan dengan aksi yang mengarah pada adu jotos, sementara beberapa pendaki lainnya tampak mencoba melerai agar situasi tidak makin melebar.

Mulyadi, Asisten Perhutani BKPH Lawu Selatan, membenarkan adanya kejadian tersebut.. Ia menyebut insiden terjadi pada 26 April lalu, dengan jalur perjalanan dari Basecamp Lawu via Ceto.. Menurut Mulyadi, penyebab utama pertengkaran adalah rebutan spot foto.. Selain itu, kedua belah pihak yang terlibat, tidak melaporkan kejadian itu kepada pihak pengelola.

Klarifikasi kemudian muncul setelah video tersebar.. Dalam satu video permohonan maaf yang beredar, Sammah—yang mengaku mewakili ketua regu—menyampaikan bahwa dirinya sudah saling memaafkan dengan rombongan yang dipimpin Arif.. Ia menegaskan tidak ada masalah lagi setelah permintaan maaf tersebut disampaikan.

Sementara itu, pada video permohonan maaf lainnya, Ruli selaku Ketua Rombongan Pendaki asal Bandung turut menyampaikan klarifikasi. Ia mengungkapkan bahwa kejadian di Puncak Gunung Lawu telah disikapi dengan permohonan maaf, menyusul kegaduhan yang terekam di media sosial.

Rebutan spot foto, pemicu kecil yang jadi besar

Di gunung, kondisi fisik juga turut memengaruhi.. Terbatasnya stamina, kelelahan setelah perjalanan, serta tekanan waktu untuk mengambil momen di lokasi tertentu membuat orang lebih mudah terpancing.. Karena itu, yang seharusnya menjadi pengalaman menikmati pemandangan, justru berubah menjadi pertengkaran di area yang seharusnya aman untuk semua.

Dampak sosial: video viral menambah tekanan

Meski permintaan maaf bisa menutup konflik di tingkat hubungan personal, masalah lain tetap menyisakan pertanyaan: mengapa kejadian tidak segera dilaporkan kepada pengelola saat insiden terjadi?. Pelaporan biasanya dibutuhkan bukan untuk “menghakimi”, melainkan untuk memastikan keamanan dan pencegahan agar kejadian serupa tidak berulang.

Pelajaran untuk pendaki agar tidak mengulang kejadian

Ke depan, Misryoum berharap setiap pendaki semakin sadar bahwa jejak digital bisa bertahan lama.. Konflik yang awalnya terjadi di momen singkat dapat berubah menjadi isu yang mengikuti seseorang dan kelompoknya.. Karena itu, pendekatan yang dewasa—termasuk melapor bila diperlukan—lebih bermanfaat daripada membiarkan masalah berkembang hingga terekam.

Insiden ini pada akhirnya menunjukkan satu hal: emosi sesaat tidak sebanding dengan risiko keselamatan dan reputasi.. Dari permohonan maaf yang muncul, kedua pihak tampaknya berupaya merapikan keadaan.. Namun, pelajaran besarnya tetap sama—spot foto di gunung seharusnya tidak lebih penting daripada ketertiban dan rasa saling menghormati sesama pendaki.