Dua ABG di NTB Resmi Jadi WNI, Kakanwil Milawati Berharap Besar

Dua anak berkewarganegaraan ganda di NTB resmi menjadi WNI setelah mengucap sumpah setia. Kanwil Kemenkum NTB menekankan pentingnya komitmen moral bagi masa depan bangsa.
Dua anak berkewarganegaraan ganda (ABG) di NTB resmi menjadi WNI setelah melalui proses panjang. Momentum ini menjadi titik balik bagi para remaja tersebut dalam menentukan masa depan kewarganegaraan mereka secara hukum.
Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Nusa Tenggara Barat menggelar prosesi pengambilan sumpah dan janji setia pewarganegaraan Republik Indonesia pada Kamis (23/4).. Suasana khidmat menyelimuti ruangan saat kedua anak tersebut menyatakan kesetiaannya kepada tanah air di bawah naungan bendera Merah Putih.. Proses ini merupakan muara dari rangkaian administrasi yang telah dijalani sejak tahun 2024, di mana verifikasi ketat dilakukan untuk memastikan pemenuhan syarat undang-undang.
Komitmen Moral dan Integritas Bangsa
Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham NTB, I Gusti Putu Milawati, menekankan bahwa sumpah pewarganegaraan bukanlah sekadar seremoni administratif di atas kertas.. Baginya, janji luhur ini membawa konsekuensi moral yang berat bagi setiap individu yang memilih untuk mengabdi pada Indonesia.. Warga negara yang baru disahkan dituntut untuk memiliki integritas tinggi dan kepatuhan hukum yang konsisten demi menjaga marwah bangsa.
Kakanwil Milawati menjelaskan bahwa fenomena anak berkewarganegaraan ganda muncul dari dinamika perkawinan campuran yang cukup lazim di era globalisasi saat ini.. Negara memberikan ruang bagi anak-anak ini untuk memiliki kewarganegaraan ganda terbatas hingga mereka beranjak dewasa.. Namun, ketika seseorang menyentuh usia 18 tahun atau telah menikah, hukum mewajibkan mereka menentukan pilihan kewarganegaraannya sebelum memasuki usia 21 tahun agar tidak terjadi kekosongan status hukum.
Peran Strategis Generasi Baru
Keputusan kedua remaja ini untuk memantapkan diri sebagai WNI membawa implikasi besar bagi kontribusi sumber daya manusia di masa depan.. Mereka tidak hanya dipandang sebagai subjek hukum baru, tetapi juga sebagai representasi generasi yang menjembatani keberagaman budaya internasional dengan identitas nasional.. Dengan wawasan global yang mereka miliki, peran mereka dalam pembangunan daerah maupun nasional di masa mendatang dinilai sangat strategis.
Misryoum mencatat bahwa transisi status kewarganegaraan ini sering kali menjadi momen emosional bagi keluarga.. Dukungan orang tua dalam proses pengambilan keputusan ini memegang peranan krusial, mengingat pilihan tersebut akan menentukan hak serta kewajiban mereka sebagai warga negara Indonesia seutuhnya.. Keberhasilan prosesi ini di NTB menunjukkan efektivitas pelayanan publik dalam memfasilitasi hak-hak konstitusional warga negara dengan tepat waktu sesuai dengan aturan yang berlaku.